0

entah...



Kehadiranmu bagaikan ruh didalam jiwa, yang tak dapat kecabut sendiri tanpa Sang Pencipta menugaskan Sang Malaikat untuk mencabutnya.

Mungkin semua orang tak dapat mempercayainya sedikitpun dengan jiwa ini, raga ini, hati ini, hingga ruh ini pun berkata. Aku Mencintaimu tanpa alasan, tanpa tetapi dan tanpa Karena?

Entah sebagai apa aku dimatamu sekarang, sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai sahabat, atupun sebagai orang yg sangat kamu benci dan orang yang sangat hina dimatamu. Aku bersyukur dan menerima ketetapan ini yang telah menciptakan hiti seperti ini, yang luas, yang tulus tak terhingga.

Hati nurani ini yang selalu berbicara, yang selalu mengikutiku, yang selalu menggangguku, kemanapun dan dimanapun ia selalu berkata, engkau milikku, engkau takdirku dan engkau tulang rusukku.

Bagaimana mungkin aku merelakan, mengikhlaskankan kepergianmu dlam hidupku, bagaimana mungkin?

Sayang… engkau harus tahu, jika aku lemah dan rentan tanpa kehadiranmu, aku sekarat tanpa sosokmu. Biarkan aku merasakan siksaan ini, kepedihan ini, jeritan batin ini, biarkan aku terus mencintaimu seperti ini, terus mencintaimu dalam keadaan ini, biarkan aku terus mencintaimu kemarin, hari ini, esok, seterusnya, selamanya sampai ruh ini kembali kepada sang pemilik-Nya. Aku Mencintaimu tanpa batas waktu, engkau separuh hidupku,dan engkau kehidupanku.


0

cuma itu.

Jiwa ini begitu bergetar mengingatmu, membayangimu, begitupun ketika aku melihatmu.
Mulut ini membungkam saat tak lagi dapat berbicara.
Raga ini membutuhkanmu, hati ini tersimpan utuh dalam setiap sanubariku.

Aku tahu aku begitu buruk, begitu hina, begitu menyakitkan hatimu.
Namun jiwa raga ini tak pernah sedikitpun aku melihat kekuranganmu, dan aku selalu bertanya pada diri ini?

Apakah mata ini sudah buta?
Apakah otak ini sudah membeku?
Apakah hati ini sudah terkunci?
Jika mememang mata ini sudah buta, aku rela menerima kebutaan ini.
Jika otak ini sudah membeku, aku rela menerima kebekuan ini.
Jika hati ini sudah terkunci, akupun akan rela menerima ketetapan ini.

Entah ini suatu hukuman apa yang sedang aku jalani, yang sedang aku hadapi, hingga jiwa dan raga ini sekarat akan kerinduanku padamu, haus akan kasih sayangmu, dan jika Tuhan memang benar menghukumku seperti ini aku rela menerima takdir ini.
Tapi satu hal yang tidak pernah aku dapat rubah dari takdir, AKU MENCINTAIMU. Cuma itu.

0

Menanti Pelangi

Mencari dan mencari setiap makna dalam jiwa yang selalu berkelu kesah dengan berbagai cibiran kata, perasaan yang ramai dalam gunjingan yang tak terdengar namun terasa begitu resah.

Aku selalu bertanya dalam perbincangan hati yang tak damai bagai rapat yang disembunyikan pada media dan secara serentak hal itu terjawab dengan hening dan sepi.

Mungkin aku rindu pada sesuatu, sesuatu yang tak pernah terjamah oleh logika karena hanya hati dan perasaan yang dapat merasakan betapa bahagianya saat itu yang sempat dihadirkan oleh cahayanya.

Menyelinap cepat dan begitu singkat hingga tak pernah tersadar oleh keadaan dan kenyataan yang berbalik indah dirasakan.

Bintang tak pernah menyesali dengan apa yang telah ia korbankan dan semua apa yang telah ia perjuangkan untuk terbang menggapai hangat cahayanya, karena bintang itu tak pernah membuat gelap yang berujung hujan.

Biarkan, biarkan… biarkanlah…… gelap dan lirih merintih layaknya sepi menjadi rindu yang tak berujung temu, dan saat ini hanya penantian dari temu yang harapannya datang dari cahaya yang berbeda yang datang dengan sungguh serta tulus tak terduga seperti pelangi yang indah menghampiri setelah hujan.

0

Ladies


Ketika wanita berkata "kamu tidak pernah mengerti aku" kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya tidak pernah mengerti akan lelaki.

Ketika wanita berkata "kamu tidak pernah perduli kepadaku" kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya tidak pernah perduli akan lelaki.
Ketika wanita berkata "kamu egois" kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya memberitahu bahwa dirinyalah yang lebih egois.
Dan ketika wanita berkata "kamu sudah menghancurkan aku" kepada seorang lelaki, disaat itu pula lelaki merasakan kehancuran yang sangat teramat dalam.
Ketika wanita berkata " kamu selalu membesar-besarkan masalah" kepada lelaki, disaat itu pula wanitalah yang selalu membesar-besarkan masalah dan tidak pernah berfikir bahwa setiap masalah yang terbesar adalah tumbuh dari hal yang terkecil.

Bukan karena sedang patah hati atau membela kaum lelaki, tapi ini karena perasaan

dan logika lelaki yang selalu melaju ber-iringan. 
Bukan karena lelaki tidak pernah memahami akan wanita, tapi karena wanita tidak
pernah mencoba memahami bagaimana lelaki.

Bukan pula karena wanita yang sering berpura-pura tegar namun hatinya rapuh, tapi karena lelaki yang selalu terlihat kuat dengan hatinya yang sangatlah rentan rapuh.
Bukan karena lelaki yang terkenal dengan berbohong kepada wanita, tapi karena wanita yang selalu melakukan kebohongan kepada diri sendiri.

(n) "Wanita selalu menangis melalui mata. Namun lelaki sekalinya menangis melalui mata hati." – duaenam

(n) "Seorang lelaki bisa melindungi seorang wanita layaknya ayah dan mencintai layaknya ibu." – duaenam

(n) "Wanita bersembunyi dalam senyum, lelaki bersembunyi dalam tawa." – duaenam

(n) "Kebanyakan penyair dan pujangga adalah lelaki, karena lelaki bisa mengerti dan merasa." – duaenam

(n) "Sesalah apapun wanita, dia tetap merasa benar. Dan sebenar apapun lelaki, dia tetap merasa bersalah." – duaenam

(n) "Disaat wanita berpikir menggunakan perasaan. Ketauhilah bahwa logika dan perasaan lelaki sedang melaju ber-iringan. Rasakanlah, pikirkanlah, sadarilah dan mengertilah." - duaenam

Tulisan ini Punya : Mustova Achmad

0

Rindu Cahaya



Cahaya yang terpancar indah dulu, tak dapat kurasakan kehangatannya saat ini atau mungkin bintang yang gelap itu tak dapat melihat cahayanya, yang dirasa hanya gelap akan hausnya pancaran sinarnya.

Tak sedikitpun terbesit dalam benak bintang gelap itu untuk memudarkan cahayanya, meragukan kehangatannya, namun bintang itu belum mengerti akan arti yang sesungguhnya dari pancaran cahayanya.
Tapi hasrat yang seutuhnya bahwa bintang yang gelap itu ingin merajut asa yang indah dalam hangatnya pancaran sinarnya.

Tersadar dalam… Sejatinya bintang selalu butuh akan cahaya, rindu akan hangatnya, tercipta indah akan pancarannya.

Bintang yang gelap itu banyak belajar dari cahaya, sampai saatnya bintang itu terjatuh pasti selalu rindu akan pancaran hangat cahayanya. Bintang mungkin tak mengetahui banyak hal akan setiap waktu yang dapat mengembalikan cahayanya sampai cahayanya benar-benar utuh menyambut kembali menyelimuti bintang yang gelap itu untuk terbang kembali seperti dulu, seperti sedia kala, seperti tempat yang seharusnya bintang berada.