0
Cahaya
yang terpancar indah dulu, tak dapat kurasakan kehangatannya saat ini atau
mungkin bintang yang gelap itu tak dapat melihat cahayanya, yang dirasa hanya
gelap akan hausnya pancaran sinarnya.
Tak
sedikitpun terbesit dalam benak bintang gelap itu untuk memudarkan cahayanya,
meragukan kehangatannya, namun bintang itu belum mengerti akan arti yang
sesungguhnya dari pancaran cahayanya.
Tapi
hasrat yang seutuhnya bahwa bintang yang gelap itu ingin merajut asa yang indah
dalam hangatnya pancaran sinarnya.
Tersadar
dalam… Sejatinya bintang selalu butuh akan cahaya, rindu akan hangatnya,
tercipta indah akan pancarannya.
Bintang
yang gelap itu banyak belajar dari cahaya, sampai saatnya bintang itu terjatuh
pasti selalu rindu akan pancaran hangat cahayanya. Bintang mungkin tak
mengetahui banyak hal akan setiap waktu yang dapat mengembalikan cahayanya
sampai cahayanya benar-benar utuh menyambut kembali menyelimuti bintang yang
gelap itu untuk terbang kembali seperti dulu, seperti sedia kala, seperti tempat
yang seharusnya bintang berada.
Saturday, March 28, 2015
Labels:
Cinta
0
Terang yang berselimut cahaya, aku ingin rasanya kamu
selalu memancarkan sinarnya didalam gelap seperti aku. Aku yang gelap akan
sosokku, dalam kepribadianku, dalam kehidupanku, tidak seperti kamu yang hadir
ceria, membawa terang akan sinarmu.
Tidak tahu rasanya jika tak pernah ada cahaya itu. Cahaya
yang membuat aku mampu terbangun dari mimpi dan harapan yang gelap, yang
membuat kegelapan itu menjadi bersinar kokoh akan keyakinannya semua itu karena
kamu, karena cahaya itu.
Bagaimana mungkin aku menutupi cahaya itu yang
hadirnya ia begitu nyata akan sinarnya yang selalu membaluti gelap, hitam nan
asing. Itulah aku, aku yang gelap tanpa cahaya terangmu, aku yang hitam tanpa
warnamu, dan aku yang asing tanpa hadirmu.
Sunday, February 1, 2015
Labels:
Cinta
0
Setiap manusia mempunyai rasa takut yang terkadang membuat seseorang menjadi egois akan hal yang ditakuti, baik itu takut kecewa, takut jatuh bahkan takut untuk mati didalam hidup.
Setiap manusia mempunyai rasa takut yang terkadang membuat seseorang menjadi egois akan hal yang ditakuti, baik itu takut kecewa, takut jatuh bahkan takut untuk mati didalam hidup.
Takut dapat terjadi kepada setiap manusia yang berkurangnya
akan keyakinan atau tidak merasa yakin terhadap diri-sendiri, orang lain,
terutama terhadap apa yang sedang dijalani dan apa yang harus dilakukan dan
semua itu terdapat pula perbedaan persepsi yang tergantung indikatornya
masing-masing, misalnya tentang teka-teki cinta “ini sedikit curhat”.
Terkadang ia tidak pandai menguasai rasa takut, tidak pandai
melawan rasa takut karena satu hal, satu hal dari beribu pengalaman yang pernah
dialami oleh setiap individu. Pengalaman karena pernah merasa sangat mencintai,
pernah merasa sangat tersakiti, rasa kecewa yang teramat dalam sehingga bayang-bayang
itu selalu menghantui fikiran seseorang untuk bangun, melangkah, berdiri,
berlari dan maju sekencang-kencangnya menggapai cinta sejati nan haqiqi (sedikit
berat kata-katanya).
Dulu... aku banyak belajar dari pengalaman, pengalaman yang
membuat aku merasa sangat mencintai seseorang, pengalaman yang membuat aku
merasa sangat tersakiti seseorang, jatuh tertimpah tangga terinjak paku dan
tertabrak motor lalu terkapar dan ayan ! (perumpamaan yang malang...)
Manusiawi... saat kemarinpun aku mengalami hal serupa, hal
serupa yang membuat aku takut mencintai, hal serupa yang membuat aku takut
tersakiti, dan hal serupa yang paling aku takutkan adalah kehilangan, kehilangan
semua tentangmu tentang manis pahit kehidupan bersamamu yang pernah aku
dapatkan.
Saat ini... aku yakin, sangat yakin akan apa yang aku jalani
dan apa yang harus aku lakukan. Trimakasih karena dirimu yang mengajarkan aku
harus bangkit, mengajarkan aku pribadi yang lebih kuat, mengajarkan aku berani
melewati sebagian hidup ini, melangkah kedepan untuk maju.
Aku pastikan saat ini, esok dan seterusnya aku tidak akan
pernah takut untuk mencintai dan kehilanganmu. Karena satu hal yang paling
utama adalah Aku tidak ingin buta akan cinta, ketika perasaan selalu mengoyak
logika dan keyakinanku. Aku yakin karena “Sang Pemilik Cinta” yang telah
menganugrahkan cinta yang suci, tulus serta ikhlas yang tidak akan pernah ada
tandingannya dan menitipkannya kepada setiap manusia.
Aku bersyukur karena “Sang Pemilik Cinta” telah menciptakan
seseorang seperti dirimu yang pantas aku titipkan sebagian cinta itu kepadamu
untuk selalu kau jaga.
Aku tulus, aku ikhlas jika esok kita diciptakan untuk selalu
menulis, membaca, bercerita dan memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan
atau memang kita diciptakan hanya untuk secerca mimpi dan harapan dalam sebuah
sejarah singkat yang gugur dimedan perang.
0
Aku hanya berani memandangimu dari kejauhan, memperhatikanmu dalam keramaian, dan mendoa’kanmu dalam kesendirian. Hanya itu, hanya itu yang dapat aku lakukan saat itu.
Aku hanya berani memandangimu dari kejauhan, memperhatikanmu dalam keramaian, dan mendoa’kanmu dalam kesendirian. Hanya itu, hanya itu yang dapat aku lakukan saat itu.
Aku yakin saat itu waktu sedang bersahabat denganku aku bersyukur
dapat mengenalmu hingga rasanya hati ini tak mengenal rasa kesedihan.
Aku berharap ini suatu takdir yang bukan suatu kebetulan
semata saat mengenalmu banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi ditempat-tempat
yang tak pernah terduga adanya kamu sehingga waktu yang mempertemukannya. Saat
itu pula hati ini, jantung ini berdebar begitu cepat dan saat itupun aku merasa
tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu?
Hasrat apa ini? Aku tak pernah mengerti hingga semua terasa
menjadi baru, hati ini menjadi damai dan kebahagiaan yang selalu kurasakan.
Kehadiranmu membawa kabar gembira saat kemarin hati ini telah hancur tak tahu
arah.
Namamu tak sekadar arti dari cahaya, wajahmu yang selalu
memancarkan kehangatan bak matahari yang membakar kegelisahan hati ini, senyummu
bak bulan yang mampu menerangi kegelapan kesunyianku dimalam hari dalam
penantian panjang, mimpi yang telah usang. Kamu hadir menjadikannya hidupku
kembali, menjadikannya hidupku lebih hidup dan jauh lebih hidup, kamu
menjadikannya kekuatan, menjadikannya inspirasi, menjadikannya semangat dikala
aku jatuh, dikala aku berdiri dan disaat aku merasa sendiri kesepian.
Mungkin aku tak bisa berbuat apa-apa saat aku lebih dalam mengenalmu
yang dapat aku lakukan hanyalah aku ingin menyayangi dan mencintaimu untuk
kemarin, kini, esok, seterusnya dan selamanya saat kamu mulai membuka mata
untuk beranjak bangun dari mimpi indahmu sampai menjelang tidur terlelap dalam
senyummu.
Aku tahu... aku tidak akan pernah menjadi kisah terindah yang dulu pernah kamu dapatkan dari kisahmu
yang lain. Tapi percayalah... aku selalu berusaha menjadikannya lebih dari itu
dengan cara aku dengan cara yang berbeda.
Kamu harus tahu... meski aku tidak mahir untuk membuatmu
bahagia, tapi percayalah... aku ingin membuatmu selalu tersenyum dan takkan
pernah membuatmu menangis.
Aku tahu... Kamu tahu... bahwa jantung ini tak selamanya
berdetak. Tapi jika Tuhan mengijinkan aku, aku ingin mencintaimu dengan
ketulusan selama jantung ini masih dapat berdetak.
Namun... Kita tak pernah tahu... Jika suatu saat bintang itu
redup dan berhenti bersinar itu karna cahayamu yang menghentikan pancaran
sinarnya dan Jika bintang itu selalu terang dan bersinar kamu harus tahu itu
jua karena cahayamu yang selalu memancarkan sinarnya.
Dan aku selalu berharap... Kamu, Namamu dan Cahaya itu selalu
menyatu untuk setia memancarkan sinarnya terhadap bintang yang gelap itu.
Tuesday, January 20, 2015
Labels:
Cinta
4
Kurang lebih dalam kurun
waktu 9 bulan aku berada dalam kandunganmu, selama itupun ngkau merasakan beban
yang sangat berat dengan segala rutinitas dan aktivitasmu sebagai pengurus
rumah tangga. Tepatnya saat usiaku menginjak 6 bulan didalam kandunganmu Alloh
berkehendak lain, Ayahku telah tiada, Malaikat telah menjemput Beliau atas izin
Alloh. Aku ikhlas, aku ridho apabila itu semua sudah takdir yang digariskan
untuk keluargaku.
Andaikan waktu dapat
diputar kembali saat itu aku hanya ingin meminta usia yang lebih untuk Beliau,
setidaknya aku hanya ingin merasakan pelukan hangat dari beliau walaupun hanya
sedetik, tapi aku sadar bahwa itu tidak mungkin. Yah... Seandainya… “mungkin
hanya dalam mimpi aku dapat bertemu dan melihatnya secara langsung” (seru suara
batinku yang paling dalam).
Terkadang aku iri melihat
semua orang, semua orang yang masih mempunyai seorang ayah, iri dengan mereka,
mereka yang dapat merasakan tidak enaknya dimarahi, mereka yang dapat merasakan
tidak enaknya dipukuli, mereka yang dapat merasakan kasih sayang seorang ayah,
mereka yang dapat merasakan nasihat yang baik, mereka yang dapat merasakan
pelajaran hidup yang sesungguhnya, mereka yang dapat merasakan kegigihan,
ketangguhan, dorongan dan rasa semangat serta motivasi dari sosok Beliau. Tapi
saat ini aku harus bersyukur mungkin karena Alloh sangat sayang kepada Beliau,
dan semoga Beliau ditempatkan ditempat yang paling layak di sisi-Nya. Aamiin…
Aku tak bisa membayangkan posisi
Ibu saat itu, aku tak bisa merasakan posisi Ibu saat itu, betapa sedihnya,
betapa terpukul dan hancurnya saat itu, ditambah beban yang ada dalam
kandunganmu semakin membesar, maafkan aku bu… aku hanya menyusahkan dan
membebanimu.
Tepatnya jum’at malam
pukul 02:00 tanggal 28 agustus 1992, ketika pertama kali ngkau melahirkan aku,
Ibu… Aku hanya bisa menangis mengisyaratkan kebahagiaanku, saat pertama kali
akupun melihatkan betapa indahnya dunia ini. Aku yakin pasti ngkau bahagia atas
kelahiranku, sekaligus ngkau menangis terharu memikirkan nasibku kelak, begitupun
pasti ngkau merindukan sosok Imammu saat itu dan mungkin ngkau juga berandaian
seharusnya aku bisa tidur ditengah diantara kalian.
Namun ngkau adalah wanita
terhebat yang pernah akau kenal, wanita yang paling tangguh, wanita yang paling
kuat yang mampu terbangaun dari segala badai ujian yang menimpah.
Ngkau adalah tiang yang
mampu berdiri kokoh diatas fondasi yang roboh dan telah terkubur tanah, laksana
pelita yang mampu menerangi kegelapan dalam hidupku, garis yang meluruskan
jalan saat langkah kaki ini berbelok, alarm pengingat yang paling baik saat
jiwa dan raga ini lalai dan lupa.
Ngkau penyejuk saat hati
ini terbakar, ngkau penenang saat hati ini gundah, ngkau penghibur saat hati
ini sedih, ngkau sepirit saat hati ini lelah, ngkau inspirasi saat hati ini
risau, ngkau motivasi saat hati ini bosan, engkau pemaaf saat aku salah.
Ngkau tak pernah mengeluh
sedikitpun, sifatmu yang mulia, kasih sayangmu yang lembut, rasa sayangmu yang
tulus, dan cintamu yang penuh dengan keikhlasan, satu-satunya, tak ada duanya,
tak ada yang lain dan takkan pernah ada yang lain.
Tanpamu aku tak mungkin
ada, tanpamu aku tak mungkin seperti ini, tanpamu aku tak mungkin dapat
berjalan melewati jutaan kisah hidup ini.
Maafkan… maafkan aku bu…
maafkan anakmu ini bu… aku tak pernah bisa membalas jasa-jasa dan pengorbananmu,
dari dulu sampai sekarang aku hanya menyusahkanmu, membebanimu. Aku hanya anak
bodoh yang selalu mengeluh dan tak pernah mendengarkan nasihatmu, bahka aku
bukan anak yang baik karena akau sering membangkang perintahmu.
Terimakasih bu…
terimakasih ngkau telah mengajarkan banyak pelajaran hidup, mengajarkan banyak
rasa bersyukur, mengajarkan banyak ketegaran, dan mengajarkan banyak kekuatan.
Terimakasih bu…
terimakasih atas kasih sayang dan cintamu, ketulusanmu, keikhlasanmu merawat
dan membesarkanku sampai saat ini.
Jasamu, Pengorbananmu akan
selalu kuingat sampai kapanpun hingga jiwa dan ragaku tak lagi bernyawa.
Aku hanya bisa
berdoa’ untukmu, dalam setiap nafasku,
dalam setiap sujudku agar jiwa dan ragamu sehat selalu.
Ya Alloh Ya Tuhanku…
Berilah Beliau umur yang
panjang agar aku dapat berbakti kepadanya.
Mungkin hanya ini yang
dapat aku tulis tentangmu bu… ini hanya sedikit karna menuliskan tentangmu
butuh waktu seumur hidupku.
Tertanda dari anakmu.
Terimakasih yang tak
terbatas.
I Love You Ibu…
“Selamat Hari Ibu Nasional
22 Desember 2014”
Monday, December 22, 2014
Labels:
Ibu

