0

Rindu Cahaya



Cahaya yang terpancar indah dulu, tak dapat kurasakan kehangatannya saat ini atau mungkin bintang yang gelap itu tak dapat melihat cahayanya, yang dirasa hanya gelap akan hausnya pancaran sinarnya.

Tak sedikitpun terbesit dalam benak bintang gelap itu untuk memudarkan cahayanya, meragukan kehangatannya, namun bintang itu belum mengerti akan arti yang sesungguhnya dari pancaran cahayanya.
Tapi hasrat yang seutuhnya bahwa bintang yang gelap itu ingin merajut asa yang indah dalam hangatnya pancaran sinarnya.

Tersadar dalam… Sejatinya bintang selalu butuh akan cahaya, rindu akan hangatnya, tercipta indah akan pancarannya.

Bintang yang gelap itu banyak belajar dari cahaya, sampai saatnya bintang itu terjatuh pasti selalu rindu akan pancaran hangat cahayanya. Bintang mungkin tak mengetahui banyak hal akan setiap waktu yang dapat mengembalikan cahayanya sampai cahayanya benar-benar utuh menyambut kembali menyelimuti bintang yang gelap itu untuk terbang kembali seperti dulu, seperti sedia kala, seperti tempat yang seharusnya bintang berada.

0

Cahaya Terangmu Dalam Gelapnya Aku



Terang yang berselimut cahaya, aku ingin rasanya kamu selalu memancarkan sinarnya didalam gelap seperti aku. Aku yang gelap akan sosokku, dalam kepribadianku, dalam kehidupanku, tidak seperti kamu yang hadir ceria, membawa terang akan sinarmu.

Tidak tahu rasanya jika tak pernah ada cahaya itu. Cahaya yang membuat aku mampu terbangun dari mimpi dan harapan yang gelap, yang membuat kegelapan itu menjadi bersinar kokoh akan keyakinannya semua itu karena kamu, karena cahaya itu.

Bagaimana mungkin aku menutupi cahaya itu yang hadirnya ia begitu nyata akan sinarnya yang selalu membaluti gelap, hitam nan asing. Itulah aku, aku yang gelap tanpa cahaya terangmu, aku yang hitam tanpa warnamu, dan aku yang asing tanpa hadirmu.

0

Ketika Takut Menjadi Keyakinan


Setiap manusia mempunyai rasa takut yang terkadang membuat seseorang menjadi egois akan hal yang ditakuti, baik itu takut kecewa, takut jatuh bahkan takut untuk mati didalam hidup.

Takut dapat terjadi kepada setiap manusia yang berkurangnya akan keyakinan atau tidak merasa yakin terhadap diri-sendiri, orang lain, terutama terhadap apa yang sedang dijalani dan apa yang harus dilakukan dan semua itu terdapat pula perbedaan persepsi yang tergantung indikatornya masing-masing, misalnya tentang teka-teki cinta “ini sedikit curhat”.

Terkadang ia tidak pandai menguasai rasa takut, tidak pandai melawan rasa takut karena satu hal, satu hal dari beribu pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu. Pengalaman karena pernah merasa sangat mencintai, pernah merasa sangat tersakiti, rasa kecewa yang teramat dalam sehingga bayang-bayang itu selalu menghantui fikiran seseorang untuk bangun, melangkah, berdiri, berlari dan maju sekencang-kencangnya menggapai cinta sejati nan haqiqi (sedikit berat kata-katanya).

Dulu... aku banyak belajar dari pengalaman, pengalaman yang membuat aku merasa sangat mencintai seseorang, pengalaman yang membuat aku merasa sangat tersakiti seseorang, jatuh tertimpah tangga terinjak paku dan tertabrak motor lalu terkapar dan ayan ! (perumpamaan yang malang...)

Manusiawi... saat kemarinpun aku mengalami hal serupa, hal serupa yang membuat aku takut mencintai, hal serupa yang membuat aku takut tersakiti, dan hal serupa yang paling aku takutkan adalah kehilangan, kehilangan semua tentangmu tentang manis pahit kehidupan bersamamu yang pernah aku dapatkan.

Saat ini... aku yakin, sangat yakin akan apa yang aku jalani dan apa yang harus aku lakukan. Trimakasih karena dirimu yang mengajarkan aku harus bangkit, mengajarkan aku pribadi yang lebih kuat, mengajarkan aku berani melewati sebagian hidup ini, melangkah kedepan untuk maju.

Aku pastikan saat ini, esok dan seterusnya aku tidak akan pernah takut untuk mencintai dan kehilanganmu. Karena satu hal yang paling utama adalah Aku tidak ingin buta akan cinta, ketika perasaan selalu mengoyak logika dan keyakinanku. Aku yakin karena “Sang Pemilik Cinta” yang telah menganugrahkan cinta yang suci, tulus serta ikhlas yang tidak akan pernah ada tandingannya dan menitipkannya kepada setiap manusia.
Aku bersyukur karena “Sang Pemilik Cinta” telah menciptakan seseorang seperti dirimu yang pantas aku titipkan sebagian cinta itu kepadamu untuk selalu kau jaga.

Aku tulus, aku ikhlas jika esok kita diciptakan untuk selalu menulis, membaca, bercerita dan memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan atau memang kita diciptakan hanya untuk secerca mimpi dan harapan dalam sebuah sejarah singkat yang gugur dimedan perang.

0

Kamu, Namamu dan Cahaya Itu


Aku hanya berani memandangimu dari kejauhan, memperhatikanmu dalam keramaian,  dan mendoa’kanmu dalam kesendirian. Hanya itu, hanya itu yang dapat aku lakukan saat itu.

Aku yakin saat itu waktu sedang bersahabat denganku aku bersyukur dapat mengenalmu hingga rasanya hati ini tak mengenal rasa kesedihan.

Aku berharap ini suatu takdir yang bukan suatu kebetulan semata saat mengenalmu banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi ditempat-tempat yang tak pernah terduga adanya kamu sehingga waktu yang mempertemukannya. Saat itu pula hati ini, jantung ini berdebar begitu cepat dan saat itupun aku merasa tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu?

Hasrat apa ini? Aku tak pernah mengerti hingga semua terasa menjadi baru, hati ini menjadi damai dan kebahagiaan yang selalu kurasakan. Kehadiranmu membawa kabar gembira saat kemarin hati ini telah hancur tak tahu arah.

Namamu tak sekadar arti dari cahaya, wajahmu yang selalu memancarkan kehangatan bak matahari yang membakar kegelisahan hati ini, senyummu bak bulan yang mampu menerangi kegelapan kesunyianku dimalam hari dalam penantian panjang, mimpi yang telah usang. Kamu hadir menjadikannya hidupku kembali, menjadikannya hidupku lebih hidup dan jauh lebih hidup, kamu menjadikannya kekuatan, menjadikannya inspirasi, menjadikannya semangat dikala aku jatuh, dikala aku berdiri dan disaat aku merasa sendiri kesepian.

Mungkin aku tak bisa berbuat apa-apa saat aku lebih dalam mengenalmu yang dapat aku lakukan hanyalah aku ingin menyayangi dan mencintaimu untuk kemarin, kini, esok, seterusnya dan selamanya saat kamu mulai membuka mata untuk beranjak bangun dari mimpi indahmu sampai menjelang tidur terlelap dalam senyummu.

Aku tahu... aku tidak akan pernah menjadi kisah  terindah yang dulu pernah kamu dapatkan dari kisahmu yang lain. Tapi percayalah... aku selalu berusaha menjadikannya lebih dari itu dengan cara aku dengan cara yang berbeda.

Kamu harus tahu... meski aku tidak mahir untuk membuatmu bahagia, tapi percayalah... aku ingin membuatmu selalu tersenyum dan takkan pernah membuatmu menangis.

Aku tahu... Kamu tahu... bahwa jantung ini tak selamanya berdetak. Tapi jika Tuhan mengijinkan aku, aku ingin mencintaimu dengan ketulusan selama jantung ini masih dapat berdetak.

Namun... Kita tak pernah tahu... Jika suatu saat bintang itu redup dan berhenti bersinar itu karna cahayamu yang menghentikan pancaran sinarnya dan Jika bintang itu selalu terang dan bersinar kamu harus tahu itu jua karena cahayamu yang selalu memancarkan sinarnya.
Dan aku selalu berharap... Kamu, Namamu dan Cahaya itu selalu menyatu untuk setia memancarkan sinarnya terhadap bintang yang gelap itu.

4

Ibu...

Kurang lebih dalam kurun waktu 9 bulan aku berada dalam kandunganmu, selama itupun ngkau merasakan beban yang sangat berat dengan segala rutinitas dan aktivitasmu sebagai pengurus rumah tangga. Tepatnya saat usiaku menginjak 6 bulan didalam kandunganmu Alloh berkehendak lain, Ayahku telah tiada, Malaikat telah menjemput Beliau atas izin Alloh. Aku ikhlas, aku ridho apabila itu semua sudah takdir yang digariskan untuk keluargaku.

Andaikan waktu dapat diputar kembali saat itu aku hanya ingin meminta usia yang lebih untuk Beliau, setidaknya aku hanya ingin merasakan pelukan hangat dari beliau walaupun hanya sedetik, tapi aku sadar bahwa itu tidak mungkin. Yah... Seandainya… “mungkin hanya dalam mimpi aku dapat bertemu dan melihatnya secara langsung” (seru suara batinku yang paling dalam).
Terkadang aku iri melihat semua orang, semua orang yang masih mempunyai seorang ayah, iri dengan mereka, mereka yang dapat merasakan tidak enaknya dimarahi, mereka yang dapat merasakan tidak enaknya dipukuli, mereka yang dapat merasakan kasih sayang seorang ayah, mereka yang dapat merasakan nasihat yang baik, mereka yang dapat merasakan pelajaran hidup yang sesungguhnya, mereka yang dapat merasakan kegigihan, ketangguhan, dorongan dan rasa semangat serta motivasi dari sosok Beliau. Tapi saat ini aku harus bersyukur mungkin karena Alloh sangat sayang kepada Beliau, dan semoga Beliau ditempatkan ditempat yang paling layak di sisi-Nya. Aamiin…

Aku tak bisa membayangkan posisi Ibu saat itu, aku tak bisa merasakan posisi Ibu saat itu, betapa sedihnya, betapa terpukul dan hancurnya saat itu, ditambah beban yang ada dalam kandunganmu semakin membesar, maafkan aku bu… aku hanya menyusahkan dan membebanimu.

Tepatnya jum’at malam pukul 02:00 tanggal 28 agustus 1992, ketika pertama kali ngkau melahirkan aku, Ibu… Aku hanya bisa menangis mengisyaratkan kebahagiaanku, saat pertama kali akupun melihatkan betapa indahnya dunia ini. Aku yakin pasti ngkau bahagia atas kelahiranku, sekaligus ngkau menangis terharu memikirkan nasibku kelak, begitupun pasti ngkau merindukan sosok Imammu saat itu dan mungkin ngkau juga berandaian seharusnya aku bisa tidur ditengah diantara kalian.

Namun ngkau adalah wanita terhebat yang pernah akau kenal, wanita yang paling tangguh, wanita yang paling kuat yang mampu terbangaun dari segala badai ujian yang menimpah.

Ngkau adalah tiang yang mampu berdiri kokoh diatas fondasi yang roboh dan telah terkubur tanah, laksana pelita yang mampu menerangi kegelapan dalam hidupku, garis yang meluruskan jalan saat langkah kaki ini berbelok, alarm pengingat yang paling baik saat jiwa dan raga ini lalai dan lupa.

Ngkau penyejuk saat hati ini terbakar, ngkau penenang saat hati ini gundah, ngkau penghibur saat hati ini sedih, ngkau sepirit saat hati ini lelah, ngkau inspirasi saat hati ini risau, ngkau motivasi saat hati ini bosan, engkau pemaaf saat aku salah.

Ngkau tak pernah mengeluh sedikitpun, sifatmu yang mulia, kasih sayangmu yang lembut, rasa sayangmu yang tulus, dan cintamu yang penuh dengan keikhlasan, satu-satunya, tak ada duanya, tak ada yang lain dan takkan pernah ada yang lain.

Tanpamu aku tak mungkin ada, tanpamu aku tak mungkin seperti ini, tanpamu aku tak mungkin dapat berjalan melewati jutaan kisah hidup ini.

Maafkan… maafkan aku bu… maafkan anakmu ini bu… aku tak pernah bisa membalas jasa-jasa dan pengorbananmu, dari dulu sampai sekarang aku hanya menyusahkanmu, membebanimu. Aku hanya anak bodoh yang selalu mengeluh dan tak pernah mendengarkan nasihatmu, bahka aku bukan anak yang baik karena akau sering membangkang perintahmu.

Terimakasih bu… terimakasih ngkau telah mengajarkan banyak pelajaran hidup, mengajarkan banyak rasa bersyukur, mengajarkan banyak ketegaran, dan mengajarkan banyak kekuatan.
Terimakasih bu… terimakasih atas kasih sayang dan cintamu, ketulusanmu, keikhlasanmu merawat dan membesarkanku sampai saat ini.

Jasamu, Pengorbananmu akan selalu kuingat sampai kapanpun hingga jiwa dan ragaku tak lagi bernyawa.
Aku hanya bisa berdoa’  untukmu, dalam setiap nafasku, dalam setiap sujudku agar jiwa dan ragamu sehat selalu.
Ya Alloh Ya Tuhanku…
Berilah Beliau umur yang panjang agar aku dapat berbakti kepadanya.

Mungkin hanya ini yang dapat aku tulis tentangmu bu… ini hanya sedikit karna menuliskan tentangmu butuh waktu seumur hidupku.

Tertanda dari anakmu.
Terimakasih yang tak terbatas.
I Love You Ibu…
“Selamat Hari Ibu Nasional 22 Desember 2014”